Skip to content.

October 19, 2011 | Los Angeles

LA day 3: Vintage Store VS Thrift Store

Sangat obvious saya itu pecinta vintage stuff. Bahkan waktu SMA pun, kalau mau pergi ke acara2 ulang tahun atau akhir pekan, saya suka ngambil baju2 dari koleksi Mama yang jadul. One of my best friend, Fitri Taher, sangat maklum akan kebiasaan saya ini dan kadang meledek saya. :p Sehingga tak heran kalau sejak jaman sekolah itu tiap traveling, saya menikmati diajak Mama mampir toko2 vintage, atau toko barang2 anting.

Entah mengapa saya suka semua yang berbau2 jadul. Mungkin kalau kata salah satu sahabat saya, Rio Haminoto bilang saya itu punya abu tua :p dan di masa reinkarnasi saya mungkin udah bertahun2 di dunia ini. Whatever lah, yang pasti saya itu punya passion terhadap segala hal jadul.

Saya tidak gengsi pakai baju atau aksesori yang previously owned by someone. Malah kadang, kalo menurut saya, sesuatu yang sudah dipakai itu ada nilai history nya. Mungkin agak lebai yah perumpamaan ini, tapi bener deh kalau saya pakai jaket atau dress vintage, saya rasanya seperti ikut berada di dekade tersebut!

Well anyway, tapi setelh saya perhatikan, sepertinya masyarakat Indonesia masih asing dengan istilah ‘baju bekas’. Segala yang bekas2 kayaknya gimanaa gitu… ya kan? :p

Meskipun saat kuliah saya sudah dikasih tau temen akan keberadaan pasar Senen yang menjual baju2 bekas lemparan dari Korea atau Jepang, but still…kata ‘bekas’ itu sering membuat dahi berkerut orang yang mendengarnya. Dan yang mau bersusah2 payah ke pasar loak di Bandung atau Senen itu, masih sedikit.

Sementara, di benua Amerika, Eropa dan Australia, bekas atau secondhand itu justru diburu.

Resurrection, tempat Rachel Zoe dan other Hollywood celebrities belanja

Untuk kaum muda, biasanya mereka pergi ke thrift store. Sementara untuk kaum dewasa, lebih memilih vintage store.

Persamaan vintage dan thrift store adalah, sama-sama bekas, judulnya. Secondhand, alias semua barang2 yang dijual disitu sudah pernah dipakai oleh orang lain. Bisa dari tangan orang pertama, kedua bahkan ketiga.

Nah, perbedaannya, kalau vintage store itu, mereka menjual barang2 lawas dari tahun 40an-hingga 80an. Ada juga yang sampai tahun 90an. Barang2 di toko vintage ini biasanya yang selected/terpilih saja. Label2 yang dijual di toko vintage ini juga label wah. Mulai dari Pucci, Karl Lagerfeld, Elsa Schiaparelli, YSL, dkk.. daaannn kebanyakan mahal. Harganya bisa dari $100 hingga $1000! Semua itu tergantung kondisi dan kejarangan (rare). Semakin jarang dan one of a kind modelnya, biasanya semakin mahal. Intinya, vintage itu adalah baju2 yan dipakai oleh nenek dan uyut kita deh. Atau ibunya uyut kita. :)

Di toko vintage biasanya juga dijual piringan hitam, tas2, aksesori2 lawas. Nah, aksesori2 lawas ini yang saya suka gila kalo liatnya. Abis keren2 banget! dan one of a kind, rare, jadi ga bakal sama sama orang lain. Pernah di flea market terkenal, St. Ouen di daerah kota Paris, saya menemukan giwang Nina Ricci, batu ruby bulat dengan pinggiran emas asli, harganya cuman kalo di kurs yaahh Rp. 1.200.000an lah, which is lumayan ga apa2 kalo dibeli karena kan modelnya long lasting.

The Way We Wore

Nah, di LA ini terkenal akan banyaknya toko2 vintage. Celebrity stylist ternama Rachel Zoe jelas2 mengungkapkan kecintaannya pada vintage clothing. Dia sering berbelanja di toko Resurrection, The Way We Wore, What Goes Around Comes Around. Tiga toko itu merupakan toko vintage ternama di LA. Sementara Resurrection udah buka cabang di New York di daerah Soho. Of course, saya menyempatkan diri untuk ke semua toko itu.

Tapi memang harganya masih mahal2. Gaun panjang dari Pucci harganya $650, atau ada jaket dari Fendi harganya $1200. Di toko2 vintage itu kita bisa menemukan banyak koleksi dari Hollywood celebrity. Seperti kepunyaan aktris legendaris Elizabeth Taylor, Joan Crawford hingga aktris modern seperti Julia Roberts.

Tapi memaanng semua koleksinya bikin dada berdebar. Kalu masuk ke toko2 itu, rasanya saya mau nangis dan sesak napas. Mau nangis karena suka ga sanggup beli :p dan setiap meraba satu per satu baju2 itu, yang di otak saya ada kalimat “OHMY GOD keren bangeet ini bentuknya.. OHMYGOD OHMYGOD OHMYGOD”, beeegiitu terus, udah kayak berdoa kan?

Menurut saya, berbelanja atau sekadar melihat2 ke toko vintage merupakan inspirasi. Saya banyak mendapatkan inspirasi how to style, how to dress, ya dari keluar masuk toko2 vintage itu. Dan menurut saya, semua wanita pecinta fashion harusnya memang kesitu untuk cari inspirasi :)

Nah, sementara, di dunia ini ada lagi yang namanya thrift store. Di thrift store ini, yang banyak dijual adalah pakaian bekas yang baru beberapa tahun berevolusi. Meskipun ada juga pakaian dari tahun 60an atau 70an, tapi biasanya mereka menjual aneka merek.

Jalanan Melrose, thrift stores.

Di thrift store kita akan menemukan merek2 mulai dari Diane Von Furstenberg hingga Zara, Diesel dan Commes des Garcons. Tapiiii kalau kita jeli, kita bisa menemukan merek seperti Louis Vuitton dengan harga super miring disitu.

Nah, harga di thrift store cenderung murah. Ada yang $2 hingga $450. Tergantung kualitas dan mereknya.

Di LA, banyaaaaaaaaaaakkkk banget thrift store. Berderet sepanjang jalanan Melrose, Fairfax dan La Brea. Or even ada juga yang di downtown LA namanya St. Vincent (yang ini saya tau dari supir taksi).

Di hari ketiga, saya sengaja jalan kaki dari ujung ke ujung, demi memasuki toko thrift satu per satu. Kalau ke toko2 beginian harus tenang. Dan lebih enaknya sendiri. Di hari kedua sebenernya saya juga udah ke daerah situ sama suami, tapi of course lah ya dia ngomel karena kelamaan. Alhasil hari ketiga saya balik lagi kesitu, sendirian, demi memuaskan rasa curiousity dan cari inspirasi.

Wasteland

Seperti yang pernah saya tulis di post sebelumnya, LA merupakan tempat yang pas untuk mencari barang2 bekas yang keren2 selain London. Di LA, salah satu thrift store yang bagus isinya adalah Buffalo Exchange dan Wasteland. Buffalo Exchange ini juga ada di Brooklyn, NY dan kota lain di Amerika.

Wasteland ini tempatnya luas dan agak tidak beraturan. Jadi harus tenang dan pelan2 kalo mau nyari sesuatu disitu. Seperti biasa saya langsung ke daerah belt dulu, daerah belt ini ga terlalu banyak dikunjungi orang. Padahaall kalo kita jeli, pasti nemu yang kece. Contohnya saya nemu belt hitam simple dari Louis Vuitton (asli yah ini) harganya cuman $45 aja. Trus ikat pinggang John Varvatos cuman $22. Rata2 belt yang dijual disitu yang mereknya bagus2, harganya tak lebih dari $70.

Setelah itu saya ke bagian jaket dan dresses. Disitu banyak ditemukan jaket2 kece dari Diesel, Burberry, Commes des Garcons, Stella McCartney, All Saint, yang harganya ga lebih dari $150.

Dresses pun ada yang dari Missoni seharga $99, Juicy Couture, BCBG Max Azria, dll, dll… yang rata2 dibawah $55.

Wasteland lagi

Sesuai arti nama tokonya, mereka menerima ‘buangan’ baju2 kita, dari jam 12-5 sore. Jadiii kalo kita mau jual baju kita, bisa tuh di jam2 segitu.

Mulai dari jam 3 tuh keliatan banyak kaum muda gaya2 yang dateng kesitu bawa koper atau buntelan isi baju2 mereka yang mau dijual.

Prosedurnya, Wasteland akan kasih harga sebuah jaket (misalnya) $150, nah si owner dapet 30% dari situ. Kalo suami saya yang denger gini sih bilang rugi lah yaw. BUT kalo kita pikir kita ga akan lagi pake tu baju2 dan dengan hasil penjualan yang didapat bisa beli baju lain yg murah di tempat yang sama, why not? It’s good to recycle and reuse things.

Saya teringat saya juga pernah menjual baju2 saya di Buffalo Exchange di Brooklyn, NY. Waktu itu saya mau pulang for good ke Indonesia. Jadi, daripada berat2in koper dengan baju2 yang ga pengen lagi gue pake, yaa gue jual aja. Saya ingat saya jual dress Diane Von Furstenberg yang saya beli di Jakarta, trus ada label2 lain lah juga dari Forever21, sepatu, dll. Dengan harapan duitnya bisa dibawa balik ke Jakarta kan lumayan buat beli barang lain. But eeehh instead of duitnya doang saya bawa, saya tergoda untuk beli lagi beberapa barang disitu. Alhasil, koper tetep berat.

Anyway, kenapa saya suka toko-toko thrift ini, karena baju2 yg ada disitu juga keren2 dan inspiratif. Plus, koleksinya masih moderen. Alias baru 1 decade doang muncul sebagai tren, or even beberapa tahun. Di thrift store juga dijual sepatu2, perhiasan dan tas.

Saya jadi ingat kunjungan saya sekali ke pasar Senen waktu masih jadi fashion editor di Femina. Kita berlima kalap beli baju2 keren dengan harga super miring. Masa ada atasan yang Rp. 10.000 buat 3 atasan!!! Nah, of course kita ga akan nemu yang kayak ginian harganya di LA ini, but stilllll dengan ragam koleksi yang keren dan inspiratif, kunjungan ke toko thrift atau bahkan vintage di LA, kudu dicoba.

 

Share Our Post

  • Delicious
  • Digg
  • Newsvine
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Related Posts

Comments

  1. Jubah Fesyen says: August 16, 2013

    Post nie memang betul2 bermanafaat… mungkin tidak
    pada yg lain… tapi amat pada saya… terima kasih admin…

  2. Fhepooh says: October 29, 2013

    Very nice posting. Buat gaya emang ga perlu mahal.

Add a Comment